Disudut Aula

Aku terpana dan terdiam mendengar kata-kata Harist.
“Naura saya tahu kamu menyukai saya, dan kamu pasti juga tahu saya menyukai kamu, tapi adik saya menyukai kamu juga, dan saya menyayanginya karena itu tolong sukai adik saya, karena sebagai kakaknya saya tidak mau mengecewakan dia.”

Harist melanjutkan kata-katanya bercerita tentang adiknya yang tiap malam selalu bercerita tentang aku, selalu memuji-muji aku, selalu terlihat gembira kalau ada yang membicarakan aku.

Harist menunggu jawabanku, tapi dia tiba-tiba terkejut melihat aku menangis. “Naura kamu menangis, aku minta maaf ya, kalau kata-kataku ada yang salah” Harist berdiri dari bangku yang didudukinya.

Aku makin tersedu dan menelungkupkan kepala di meja.
Dan dengan suara lirih dan tegas aku berkata “tidak … tidak kamu tidak bisa merubah hatiku yang suka padamu untuk adikmu yang tidak kusukai.”
Aku terburu-buru mengambil tasku dan berlari keluar ruangan kelas.

Harist mengejar dan memanggil namaku. “Naura… Naura… maafkan aku ya.”
Tapi aku tidak mengacuhkan Harist dan terus berlari dan menarik tangan Gian yang menunggu di luar kelas sementara kami bicara.

“Naura bicaranya sudah selesai” Gian bertanya kebingungan saat kutarik tangannya untuk segera pergi dari sana. Aku menyalahkan Gian, “Tahu begini tadi aku tidak mau kamu ajak bicara sama Harist”.
“Kenapa Naura, apa yang di katakan Harist.”
Gian berusaha mengejar langkah kakiku yang sudah lari di depannya.
“Apanya yang suka, kalau suka bukan begini.”
Aku bicara sambil terisak dan menahan air mataku jatuh.
“Iya, Harist bilang apa, ayo dong Naura cerita padaku.”
Gian memeluk bahuku dengan tangan kirinya.

**
Kemaren Gian bilang padaku, kalau Harist mau mengajak bicara. Aku tanya Gian, kira-kira dia tau nggak apa yang mau di bicarakan Harist. Gian bilang nggak tau karena cuma gitu aja pesan Harist.

Sepanjang malam aku jadi mikir, apa yang mau dikatakan Harist padaku, apa dia tahu ya aku diam-diam menyukainya. My God, jangan sampai dia tahu apa yang sesungguhnya ada dihatiku. Cukup Allah, aku dan Gian yang tahu kalau aku punya perasaan suka pada Harist.
Dan selama ini aku tidak mau memperlihatkannya, dan itu memang sifatku. Kami sering jalan bareng, pulang sekolah, ke sekolah sore ikut kegiatan olah raga, les, lomba dan lain sebagainya. Tapi aku tidak mau memperlihatkan rasa sukaku pada Harist. Sampai pembicaraan tadi aku kaget. Sebenarnya selama ini Harist tahu perasaanku. Dia juga menyukaiku. Oh Tuhan, aku bahagia, ternyata aku tidak bertepuk sebelah tangan, ternyata semu merah pipiku kala mata ini beradu pandang itu karena rasa suka kami yang sama. Ternyata degup jantungku yang menjadi cepat ketika berpapasan dengannya itu juga pertanda dia menyukaiku.

Tapi permintaannya di luar dugaanku. Kenapa mesti aku yang harus menyukai adiknya. Permintaan gila. Nggak masuk akal, nggak berperasaan. Semua di luar harapanku. Dan sepanjang jalan pulang ke asrama aku menangis dan Gian terus berusaha menghiburku.

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *